Selasa, 19 April 2011

Artis Sheila Marcia Terasa Hidup Kembali

SHEILA MARCIA (22), kini tampil kembali ke dunia artis yang tampil di layar kaca, membesarkan namanya agak kagok. Bukan kagok dengan dunia akting, melainkan dengan ritme kerja di dunia sinetron yang kembali digeluti setelah menjadi narapidana karena masalah Narkoba. “Aku merasa hidup kembali, dan bertemu dengan teman-teman lama,” ujar Sheila, bermain dalam sinetron Anugerah, produksi Sinema Art.
Sheila yang sempat vakum dari dunia akting beberapa tahun yang silam, gara-gara terjerat Narkoba dan kehamilannya. “Dulu waktuku habis untuk anakku, Leticia (1 tahun), sekarang aku pulang syuting bisa pukul 05.00 pagi. Mau tidak mau, aku harus beradaptasi dengan jam kerjaku kini,” kata Sheila, tidak pernah mengeluh, karena bermain sinetron kembali adalah hal yang patut disyukuri.
Sewaktu aku ditawari, ceritera Sheila dirinya percaya ngak percaya waktu ditawari bermain sinetron. “Setelah semua terjadi, ternyata aku masih diberi kesempatan. Tak peduli peran yang ditawarkan, bukan peran yang besar,” ungkap Sheila, yang baru merampung film layar lebar, Tebus.
Dikatakan Sheila, diajak main saja aku sudah berterima kasih. “Kesempatan ini, membuat aku merasa hidup kembali. Aku merasa berguna kembali. Untuk membayar waktu yang hilang dengan anakku Leticia, jika perlu mengajaknya ke lokasi syuting,” harap Sheila, berjanji kepada dirinya untuk tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. “Doakan….ya, agar aku bisa bertahan dengan apa adanya, dan tak mengulangi lagi,” timpal Sheila, pengalaman adalah guru yang paling berharga, semoga…(nico)

Usul Nama Labuan Bajo Menjadi Komodo Pertumbuhan Hotel di Manggarai Barat Meresahkan

LABUAN BAJO, NTT, NAGi. Pengusaha hotel, terutama di wilayah Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) meresahkan, karena pertumbuhan hotel di wilayah tersebut terlalu pesat. Bila, tidak dikendalikan pertumbuhan hotel itu akan mencapai titik jenuh, dan hotel yang sudah lama berdiri terancam guling tikar (bangkrut). Sementara ada para pengusaha dari Jakarta mengusulkan nama Kota Labuan Bajo sebagai ibukota Kabupaten Manggarai Barat dirubah menjadi Komodo.

                Kepala Personalia Hotel Bintang Flores, Ambrosius Ambo mengatakan, pertumbuhan hotel ditunjang dengan kemudahan izin pendirian hotel baru yang diberikan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat kepada investor. “Apalagi pemerintah daerah di bawah kepemipinan Bupati Agustinus CH Dulla, memang memprioritaskan pembangunan  di sektor pariwisata,” kata Ambros panggilan akrabnya, dalam tiga tahun jumlah hotel dan losmen di Manggarai Barat sebelumnya hanya sekitar 20 hotel, kini telah menjadi 37 hotel.

                Hotel ini, termasuk dua hotel berbintang empat yaitu Hotel Bintang Flores dan The Jakarta Suites di kawasan Jalan Pantai Pede. Sedangkan yang hampir rampung pembangunan satu hotel berbintang empat yaitu, Hotel Prima termasuk resort mewah milik konglomerat Sofyan Wanandi. “Persaingan ketat membuat okupansi di hotel tidak pernah lebih dari 30 persen. Hotel bisa merugi, karena biaya operasional tetap tinggi,” tutur Ambros, tamu hanya inap rata-rata dua malam, karena datang hanya untuk melihat Komodo, kemudian pulang.

Ubah Nama

                Sementara Direktur Utama PT Sido Muncul, Irwan Hidayat mengusulkan nama kota Labuhan Bajo sebagai ibukota Kabupaten Malanggarai Barat dirubah menjadi Komodo. “Saya sendiri baru kenal Labuan Bajo pada Pebruari 2010, ketika akan membuat iklan jamu,” katanya, itu upaya promosi wisata, semuanya tergantung Pemerintah Daerah.

                Menanggapi usalan itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Manggarai Barat, Paulus Selasa mengatakan, secara pribadi dirinya sepakat dengan wacana nama Labuan Bajo diganti dengan nama Komodo.  “Usulan dari siapa saja akan dipertimbangkan untuk kemajuan daerah.  Memang dari aspek promosi pariwisata lebih menjual, tetapi nama itu ada sejarahnya, sehingga harus dipertibangkan secara matang, dan sebaiknya dibicarakan dengan tokoh-tokoh masyarakat,” kata Paulus, apabila tokoh masyarakat menyetujui, maka pemerintah akan mengusulkan ke DPRD setempat untuk persetujuan.

                Palus memberi contoh, ada sejumlah wisatawan mancanegara seperti dari Belanda, Amerika dan Negara Eropa lainnya yang penah mengunjungi ke wilayah Manggarai Barat, mereka umumnya lebih nmengenal Manggarai Barat dengan Pulau Komodo. “Mereka mengatakan Komodo Island, dan mereka baru tahu tujuannya ada ke Labuan Bajo setelah tiba di Bali, Jogyakarta atau Jakarta. Ketika mereka masih di negaranya mengatakan tujuan ke Pulau Komodo,” ungkap Paulus, semuanya terserah kepada tokoh masyarakat.

                Sedangkan menyangkut pertumbuhan hotel, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Manggarai Barat, Beny Nanjong mengatakan, jumlah hotel belum perlu dibatasi. Yang dibutuhkan agar pengelola hotel harus lebih giat meningkatkan mutu pelayanan untuk menarik sebanyak-banyaknya tamu yang menginap. “Bagaimana pengelola hotel harus melayani tamunya sebaik mungkin, dan bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk mengelola paket hiburan, sehingga bisa menahan tamunya sampai lima hari,” saran Beny, harus ada kesinkronan antara pengelola hotel dan pemerintah untuk menjual segala objek wisata yang ada di daerah ini. (tibo)